Jakarta - Menteri Pertanian dan Menteri Investasi Rosan Roeslani menyepakati percepatan program hilirisasi di sektor pertanian, perkebunan, hortikultura, dan peternakan dengan nilai investasi mencapai Rp371 triliun. Kesepakatan ini diambil untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Dilansir dari Antara, Menteri Pertanian menjelaskan bahwa hilirisasi akan difokuskan pada sejumlah komoditas unggulan seperti kelapa, kakao, mente, sawit, dan kelapa dalam. Melalui hilirisasi, komoditas tersebut tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi diproses menjadi produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri.
Ia mencontohkan komoditas kelapa yang saat ini memberi nilai ekspor sekitar Rp24 triliun. Dengan hilirisasi yang optimal, nilai tersebut berpotensi meningkat hingga Rp2.400 triliun. Pada beberapa daerah yang sudah memulai pengolahan lokal, harga kelapa bahkan naik dari Rp600 per butir menjadi Rp3.500.
Rosan Roeslani menambahkan bahwa hilirisasi akan membuka peluang besar bagi penciptaan lapangan kerja. Pemerintah menargetkan program ini mampu menyerap sedikitnya 3 juta tenaga kerja, dan berpotensi meningkat hingga 8 juta pekerja jika industrialisasi berjalan penuh.
Pemerintah menegaskan komitmennya membangun rantai produksi dari hulu hingga hilir agar nilai ekonomi sektor pertanian tidak lagi dinikmati negara lain. Hilirisasi dinilai sebagai strategi untuk menaikkan pendapatan petani, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia.
Artikel Berita